Pentingnya Asuransi Kesehatan


Kalian tentunya sudah mendengar kabar bahwa mantan ibu negara Indonesia, Ibu Ani Yudhoyono, tengah dirawat di rumah sakit Singapura karena kanker darah.

Kita semua berharap bahwa Ibu Ani lekas diberikan kesembuhan dan kelancaran dalam pengobatan. 

Nah, bicara soal penyakit kanker, kalian pasti sering mendengar pepatah bahwa, kesehatan itu mahal harganya.

Namun sayangnya, banyak orang yang tidak benar-benar mempraktekkan hal itu dan mengabaikan fakta bahwa semakin kita tua, penyakit semakin mudah menyerang.

Jadi, banyak orang yang tidak mempersiapkan diri untuk "sakit" di usia tua. 
Kita semua pengin usia tua nggak dihabiskan di rumah sakit. Dan hampir semua orang pengin berumur panjang.

Namun, kita nggak bisa menebak nasib kan? Bisa aja kita udah menjaga kesehatan sedemikian rupa, tetapi kita tiba-tiba mengalami penyakit yang membutuhkan biaya perawatan banyak. Apalagi, penyakit seperti kanker itu bisa menyerang siapa aja.

Jadi, selain menjalankan hidup sehat dari muda, kita harus mempersiapkan asuransi kesehatan di usia tua. 

Anak-anak muda zaman sekarang banyak yang rela menabung buat liburan. Atau buat beli gawai baru. Namun saat sebagian dari mereka ditanya: udah punya asuransi apa belum? Kebanyakan jawaban mereka:

1. Ah, kantor mah udah ngurusin.
2. Gampang lah, masih muda ini.

Yap, kantor-kantor pastinya ngasih kamu minimal asuransi BPJS (kalau kantornya bener, ya). Namun banyak pegawai baru yang bahkan nggak tahu gimana sih cara pakai kartu BPJS? Cara periksa pakai BPJS gimana? 

Banyak juga nih, yang gajinya besar, tapi nggak mau ngulik lebih dalam tentang masalah kesehatan apa aja yang di-cover atau dijamin asuransi kantor.

Karena kan, asuransi yang dipakai kantor beda-beda manfaatnya. Cara penggunaannya pun beda-beda.

Cuma kalau udah nyangkut soal diskonan konser, wah, udah paling di depan.

Iya sih, konser lebih asyik. Cuma enggak asyik aja kalau abis itu kita sakit dan kita salah paham soal jaminan asuransi/belum punya asuransi.
Para freelancers alias pekerja lepas juga sering abai soal hal ini. Enggak pakai asuransi apa pun bahkan BPJS sekali pun. Padahal, enggak ada kantor yang akan memberikan mereka jaminan kesehatan.

Waktu masih muda, kita mikir kalau penyakit parah belum mau menghampiri kita. Kita lupa, kalau makin tua usia kita, makin ribet ngurus asuransi dan manfaatnya pun kadang nggak sebanyak kalau kamu daftar di usia muda.

Oke, kematian itu takdir. Kamu bisa aja meninggal besok tanpa sakit. Namun, manusia harus berusaha kan? Setidaknya berusaha supaya saat kamu meninggal dunia, kamu meninggal dalam keadaan sebaik mungkin.

Jadi, kalau kamu udah masuk usia kerja, kamu harus memperhatikan soal asuransi. Cek gimana sih ritme buat memeriksakan diri/opname pakai asuransi, baik swasta mau pun BPJS. Jangan mengutamakan hal-hal nggak penting semacam jalan-jalan. Percuma aja bisa jalan-jalan ke luar negeri tetapi habis itu sakit, dan nggak bisa bayar biaya opname. 

Ngerasa sayang bayar asuransi karena ngerasa nggak pernah sakit? Ada kok beberapa asuransi yang juga meliputi tabungan, jadi, kalau dalam kurun waktu tertentu kamu nggak sakit (biasanya 10 tahun), uangnya bisa diambil.

Namun pikiran "sayang bayar asuransi karena nggak pernah sakit" itu pikiran yang nggak visioner dan juga sombong.
"Tapi Min, kalau memang takdirku nggak bisa sembuh dari penyakit, kan ujung-ujungnya meninggal juga. Sayang dong, udah bayar nggak bisa nikmatin keuntungannya."

Gini, ikut asuransi kesehatan itu juga merupakan tanda kalau kalian sayang sama keturunan/orang terdekat kalian.

Mungkin nyawa kalian nggak terselamatkan kalau ternyata nggak mampu lagi buat bayar biaya pengobatan. Meninggal, udah. Namun gimana nasib orang terdekat/anak-anak yang harus menanggung beban pengobatan. Iya kalau beban itu dibayar lunas, kalau utang?

Ini kan bikin susah banyak orang. Bikin hidup orang jadi menderita. Karena utang adalah salah satu faktor terbesar penderitaan dan kemiskinan akut.


Comments

Popular Posts