Aku dan Materi yang Kulahap : Cara Untuk Menjadi Fokus





Oleh : Ikfir Dammahum
Instagram : @lainbatu

Pernahkah kamu terdiam saat seorang yang lain sedang asyik berdiskusi di sekitarmu, entah mengenai lingkungan, kemanusiaan, adat, atau apapun itu? Kusadari bahwa hal itu sering terjadi, kita tidak bisa fokus pada satu sisi—dengan diskusi, malah berbalik lalu melamun dalam imaji sendiri.
Terus kucari berbagai alasan mengapa hal itu bisa sering terjadi, dari materi berupa teori, praktek, observasi dan sebagainya. Dan hal itu ternyata wajar, karena sangat berkemungkinan materi yang kamu lahap telah terdokumentasi di dalam otakmu, telah tenggelam pada rak-rak yang dirimu tak tahu di mana letaknya.
Namun ketika dirimu kembali lagi, pada forum yang berisi orang sedang asyik berdiskusi, kini terlihat kembali dirimu melamun lagi. 
Bukannya aku ingin marah, tapi apa bukti dari materi yang telah kulahap selama ini? Aku merasa seperti orang bodoh di kalangan para jenius. Aku ingin mencoba untuk berbicara namun materi yang telah kusimpan dalam otakku tak bisa keluar begitu saja—mungkin ia sedang dalam pertimbangan, mungkin saja, berdoalah.
Dan amarah ini terus melonjak tatkala orang di sebelahmu terus berbicara mengenai topik yang ngawur entah dari mana, kuingin membantah itu, tapi apa antitesisnya? Apa yang harus kukatakan?
Jika begitu, jika kalian sama sepertiku yang terlalu sering blank, ada beberapa cara untuk menjadi fokus:
Pertama, jika kau sulit untuk fokus carilah salah satu inderamu yang menurutmu paling peka, jika itu telinga coba fokuskan saja ke sana dan dengarkan dengan seksama, jika itu mata coba tangkap gambar di depan sana dan refleksikan pada otak kita apa yang dikatakannya, apa maksudnya? Dan indera yang lainnya sesuai fungsinya. Sangat disarankan kamu harus mengenali inderamu sebanyak mungkin, atau buatlah ia lebih peka, sebab sering terjadi penyalahan tafsir hanya karena telinga mendengar kata namun tak menangkap ekspresi lawan bicara, dan itu sering terjadi pada komedi Indonesia.

Kedua, kenali tema dan fokuslah hanya pada kata kunci yang disampaikan orang lain, kenalilah alur penyampaiannya, apa topik yang sedang dibahas dan apa text-nya. Karena terlalu banyak orang berbicara bertele-tele dan tidak ada poin interest-nya, namun jika dirimu merasa tidak menemukan kata kunci dan tak sanggup berpikir lagi;

Rilekslah, cobalah atur nafasmu, tenangkan diri. Hapuskan seluruh beban pikiran, karena setiap orang mempunyai batasnya masing-masing, dan jika dirimu merasa terpenuhi dengan batas itu, tenanglah, dan percayalah bahwa kamu belum sampai pada batasnya. Akan kuberi contoh agar dirimu lebih memahami sedikit mengenai batasan, jika kamu merasa pemikiranmu berada pada batasnya, pada pemikiran mengenai materi;entah itu ideologi, teknisi dan stuck di situ saja, kamu akan terus mempercayai hal itu, batas itu. Tetapi, ketika ada seorang yang memberitahumu sesuatu, anti tesis dari ideologi itu, teknis itu, kamu akan menangkapnya, memahaminya, dan pemikiranmu mengenai ideologi serta teknis bertambah. Aneh bukan? Pikirkanlah sekali lagi, apakah kamu sudah mencapai batas?

Selanjutnya jika masih saja belum fokus, cobalah untuk minum air sebanyak-banyaknya dan sangat disarankan untuk  meminum air putih—kau bisa cek sendiri di google mengenai kandungan dan khasiatnya. Karena biasanya jika ada forum diskusi, juga ada coffebreak, konsumsi yang disedikan panitia di belakang dan ambillah secukupnya, tentunya semua itu agar dirimu lebih bertenaga dalam melahap kembali materinya.

Dan jika kau menyadari dirimu sulit mengingat atau ada masalah dengan ingatan, cobalah catat di dalam buku, tulis poin-poinnya, kata kuncinya, temanya, dan jika muncul sedikit pemikiranmu walau tak berbicara catatlah jua.

Keenam, jika dirimu merasa bahwa otakmu sudah mulai mencerna poin diskusi, mulai memahami alur diskusi, cobalah untuk berbicara, sangat disarankan untuk dirimu yang sedang berdiskusi lebih aware pada lingkungan sekitarmu dulu, carilah culture yang relevan dengan topik yang dibahas, kemudian paparkan dengan jelas.

Tetapi jika kamu tidak suka berbicara di depan umum, akan lebih baik setiap diskusi kau membawa seorang teman yang suka dan pandai berbicara untuk menyampaikan pemikiranmu mengenai materi diskusinya.

Ketujuh, jika diskusi telah berakhir, biasanya akan dilaksanakan diskusi kedua yang terdiri dari orang-orang terpilih saja—biasanya tertutup dan berupa lingkaran kecil, ikutlah ke sana, membaurlah, karena materi yang kamu dengarkan dengan ringkas, akan dikoyak kembali oleh para pemateri dan akan direlevankansikan sesuai culture di daerahmu—di lingkungan sekitarmu.

Terakhir, sebelum pulang, atau setelah dirimu sampai di rumah. Salinlah poin diskusi tersebut, coba ingat-ingat apa yang telah di sampaikan—bisa dibuat dengan model semacam peta konsep atau sebagainya. Buatlah catatanmu lebih rapi agar tidak ada kerancuan saat membaca ulang materi ini, atau berbagai warna pulpen untuk membatasi mana poin diskusi dan yang lain.
Jika catatanmu telah berada di dalam catatan—elektronik maupun buku, bawalah terus hal itu ke mana-mana, sebab kau tidak akan tahu pasti apa yang akan terjadi, dan itu akan menjadi panduanmu apabila ada seseorang yang mendadak langsung mengajak diskusi—itu sangat sering terjadi.

Terima kasih telah membaca cara untuk menjadi fokus ini sampai akhir, kusadari bahwa ketikan ini tidak akan berguna jika tak tersampaikan dan dipelajari. Namun jika dirimu sudah membaca, atau sudah mempraktekkan segala hal dalam materi ini, dan masih kesulitan untuk fokus dalam setiap diskusi. Tenanglah, mungkin imajinasimu itu lebih berwawasan daripada diskusi yang terus dikerjakan namun tak pernah ada hasil yang muncul di depan.


Comments

Popular Posts